Rabu, 25 Februari 2015

Ketika Lionel Messi Mulai Menjadi ’’Bad Boy’’

Ketika Lionel Messi Mulai Menjadi ’’Bad Boy’’

Begadang di Kasino, lalu Terbang ke Manchester
24/02/15, 10:55 WIB
DUNIA MALAM: Cesc Fabregas (kiri) menyambut Lionel Messi (dua dari kanan) di kasino jelang tengah malam. (Daily Mail)
Lionel Messi lekat dengan citra sebagai pemain yang baik dan santun. Namun, belakangan dia mulai berulah. Messi tertangkap basah keluyuran malam dan menikmati permainan di kasino.
JARANG sekali ada berita miring terkait dengan Messi. Superstar Barcelona itu nyaris selalu menjadi pujaan di media. Bahkan, Presiden Sepak Bola Internasional (FIFA) Sepp Blatter menggambarkan Messi sebagai anak yang diidamkan orang tua mana pun di dunia.
Jadi, bisa dibayangkan betapa terkejutnya fans Barca ketika mendapati foto Messi sedang mengunjungi Casino de Barcelona hanya semalam setelah kekalahan memalukan melawan Malaga 0-1 di Camp Nou.
Messi tertangkap kamera sedang hang out bersama bek tengah Barca Gerard Pique. Mereka tidak sendiri. Ada mantan gelandang Barca yang sekarang bermain di Chelsea, Cesc Fabregas.
Menurut sumber Daily Mail, tiga bintang lapangan hijau itu menikmati permainan poker, roulette, dan blackjack. Febregas sendiri kabarnya sedang pulang ke Barca untuk menghibur dua kawannya tersebut pasca kekalahan melawan Malaga. ’’Dan, media hiburannya adalah meja roulette,’’ kata seorang saksi kepada Daily Mail.
Messi berada di kasino tersebut sampai tengah malam. Tiga belas jam kemudian, Messi, Pique, dan tim Barcelona sudah mendarat di Bandara Manchester untuk melakoni first leg babak 16 besar Liga Champions melawan Manchester City.
Nasib Fabregas sendiri sejatinya mirip dengan Messi dan Pique. Chelsea juga bermain buruk dengan ditahan imbang tim papan bawah Burnley 1-1 di Stamford Bridge (21/2).   
Saat melawan Malaga, Messi memang menjadi salah satu sasaran utama kritik selain fullback kanan Dani Alves yang melakukan blunder sehingga lahir gol tunggal Malaga yang diciptakan Juanmi pada menit ketujuh.
Wartawan Inggris Oliver Holt menyebut penampilan Messi selalu resah dan tidak rileks. Sementara itu, Pique dinilai tidak bisa mengontrol emosi. Dia berdebat keras dengan wasit Juan Martinez Munuera yang berujung pada kartu kuning. Alhasil, Pique absen dalam pertandingan pekan depan melawan Granada karena sudah mengoleksi lima kartu kuning.
Image Messi sebagai anak baik-baik memang sangat melekat. Pada Juli 2013, Messi menjadi cover tabloid gosip Argentina karena sedang memangku seorang penari seksi di Las Vegas. Bahkan, kabarnya, hubungan Messi dengan kekasihnya, Antonella Roccuzzo, mengalami krisis karena skandal tersebut.
Namun, ternyata belakangan foto itu hanyalah olah digital tangan-tangan jahil dengan menggunakan Photoshop. Kehidupan asmara bomber 27 tahun itu baik-baik saja sampai saat ini.
Kalau di luar lapangan Messi tidak ’’aneh-aneh’’, justru muncul isu tidak sedap mengenai perilaku La Pulga –julukan Messi– di kamar ganti. Pemilik 96 caps untuk timnas Argentina tersebut sempat digosipkan kerap mem-bullypemain muda Barca. Messi kerap mengintimidasi dengan gaya mafia alias Omerta.
Salah seorang pemain yang kerap menjadi korban Messi adalah Cristian Tello. Pemain yang menjalani masa pinjaman di FC Porto tersebut sering menerima kata-kata pedas dari sang bintang utama. ’’Apa yang kami lakukan di sini? Kami anak baru di sini. Kamu bukan siapa-siapa!’’ kata Messi sebagaimana ditirukan seorang pemain muda Barca lain kepada Sport.
Eks bintang Barca yang sekarang bermain untuk Arsenal Alexis Sanchez juga pernah menjadi koran bully Messi. Saat baru dibeli dari Udinese pada 2011 dengan harga 37 juta euro (sekitar Rp 541 miliar), Sanchez mendapat sambutan buruk dari Messi.
’’Mengingat betapa jeleknya kami, saya nggak habis pikir mengapa hargamu begitu tinggi,’’ kata Messi. Pernah juga dia berkata kepada Alexis. ’’Berhenti banyak menembak. Berikan bola itu kepada saya!’’ lanjutnya. (nur/c17/ca)

Piala Dunia 2022 Dihelat November

Piala Dunia 2022 Dihelat November

25/02/15, 13:45 WIB
SUDAH FINAL: Presiden FIFA Sepp Blatter saat mengumumkan Qatar sebagai tuan rumah PD 2022. (AP Photo)
DOHA – Tradisi perhelatan Piala Dunia yang biasanya berlangsung pada musim panas (Juni dan Juli) bakal patah di PD 2022. FIFA telah memutuskan bahwa PD 2022 di Qatar akan dihelat pada musim dingin. Artinya, PD bisa berlangsung pada November dan Desember.
Faktor cuaca memang menjadi pertimbangan. Jika dipaksakan berlangsung pada Juni dan Juli, itu akan menyulitkan pemain Eropa. Sebab, pada bulan tersebut, cuaca di Qatar sedang panas-panasnya.
’’Ini adalah solusi terbaik untuk menghindari cuaca panas,’’ kata Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke di situs resmi FIFA.
’’Jelas bakal ada pro dan kontra. Tapi, hanya ada satu solusi yang pas untuk menyudahi perdebatan panjang. PD 2022 akan digelar pada November dan Desember,’’ tegasnya.
Keputusan FIFA memantik kekecewaan Direktur Premier League Richard Scudamore. Pria yang juga anggota gugus tugas FIFA itu menilai tidak ada diskusi yang konkret selama pertemuan di Doha untuk membahas jadwal PD 2022. ’’Jadwal ini (November–Desember) memang tak berpengaruh pada Liga Champions. Tapi, sangat berpengaruh di liga domestik,’’ keluh Scudamore. (c19/bas)

Miris Lihat Anak-Anak Kelaparan dan Angkat Senjata di Afrika

Miris Lihat Anak-Anak Kelaparan dan Angkat Senjata di Afrika

26/02/15, 06:50 WIB
PANGGILAN: Eko Sulistyo (baju pramuka) mendistribusikan bantuan logistik bagi pengungsi di Somalia yang dilanda perang saudara. (Dokumentasi Eko Sulistyo)
Saat sebagian orang memandang sebelah mata gerakan pramuka, Eko Sulistyo malah sebaliknya. Pada usia yang tidak lagi muda, dia justru makin aktif dalam kegiatan kepanduan itu. Dia sering terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan.
EKO Sulistyo membawa dua wadah plastik berbentuk tabung dengan semringah. Tabung itu berisi piagam penghargaan dari Badan SAR Nasional (Basarnas) yang diserahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa pagi (24/2). Nah, siang kemarin (25/2), Eko dengan bangga menunjukkan piagam tersebut kepada Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka Adhyaksa Dault.
Eko memang pantas menerima piagam itu. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas kepedulian dan kerja kerasnya dalam misi evakuasi korban pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 24 Desember 2014. Secara kebetulan, pemberian piagam itu bertepatan dengan hari ulang tahun ke-42 Eko.
Eko merupakan satu di antara enam anggota Kwarnas yang tergabung dalam tim gabungan Basarnas. Selama 21 hari, dia berada di atas Kapal Negara (KN) 224, terombang-ambing gelombang besar Selat Karimata, untuk mencari dan mengevakuasi korban AirAsia nahas tersebut.
’’Dalam misi ini, saya ditunjuk menjadi koordinator dari Kwarnas,’’ cerita Eko yang ditemui setelah menghadap Adhyaksa Dault di Kantor Kwarnas Pramuka, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
Selain memperlihatkan piagam yang ditandatangani Kepala Basarnas F.H.B. Soelistyo, Eko menunjukkan foto-foto dokumentasi dirinya saat terlibat dalam misi SAR AirAsia itu.
’’Ini foto ketika kami berhasil mengevakuasi salah satu jenazah dan serpihan-serpihan badan pesawat,’’ ujarnya.
Ada tiga jenazah dan sejumlah serpihan pesawat yang ditemukan tim gabungan di KN 224. Menurut Eko, misi SAR di tengah laut itu tergolong berat. Sebab, cuaca buruk dan gelombang besar sering menghadang mereka.
’’Saya berkali-kali muntah karena tidak tahan dengan guncangan hebat di kapal. Bayangkan, 21 hari kami terombang-ambing di tengah laut,’’ bebernya.
Eko sebenarnya cukup terlatih dalam misi-misi kemanusiaan. Beberapa kali dia terjun dalam tim rescue bencana alam, kecelakaan, bahkan menjadi relawan di daerah konflik. Misalnya, dia pernah terlibat dalam misi kemanusiaan di Somalia yang dilanda konflik berkepanjangan.
’’Ini saya menjadi tim distribusi bantuan saat terjadi konflik perang saudara di Somalia,’’ jelas alumnus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu saat menunjukkan dokumentasi fotonya.
Pada kurun 2013–2014, Eko sempat bolak-balik ke sejumlah negara di kawasan Afrika untuk mendistribusikan bantuan logistik bagi korban konflik dan kelaparan di negara-negara miskin di sana. Antara lain, Kenya, Tanzania, Sudan, Ethiopia, dan Somalia. ’’Di negara-negara itu, saya rata-rata tiga minggu sampai satu bulan.’’
Bukan hanya medan berat yang dirasakan Eko saat mengikuti misi kemanusiaan di Afrika. Namun, hatinya juga tersayat melihat kelaparan yang melanda warga di negara-negara tersebut. Dia juga miris melihat anak-anak kecil harus memanggul senjata, menjadi kombatan dalam perang saudara yang berkepanjangan.
’’Di Somalia, saya melihat anak usia 12 tahun sudah membawa AK-47. Saya langsung teringat anak sulung saya yang seusia itu,’’ cerita bapak tiga anak tersebut.
Dia juga tidak bisa melupakan peristiwa saat terlibat dalam misi kemanusiaan di Rohingya, Myanmar. ’’Saya tidak tega melihat para pengungsi yang apa-apa susah. Tidak hanya kesulitan makan, untuk buang air besar saja, mereka sulit mencari tempat. Kondisi itu mereka jalani berbulan-bulan,’’ tuturnya.
Selain di Afrika, Eko pernah terlibat dalam misi kemanusiaan di Jepang ketika terjadi bencana tsunami pada 2011. Sementara itu, misi kemanusiaan di dalam negeri, antara lain, menjadi relawan dalam tragedi tsunami Aceh, erupsi Gunung Merapi dan Gunung Slamet, tenggelamnya kapal imigran di Samudra Hindia, jatuhnya Sukhoi di Gunung Salak, hingga longsor Banjarnegara di Jawa Tengah.
’’Di Banjarnegara, saya sempat ikut dalam evakuasi ibu dan anak-anaknya yang tertimbun lumpur karena longsor yang menerjang rumah mereka,’’ kenang pria kelahiran 24 Februari 1973 tersebut.
Keterlibatan Eko dalam berbagai misi kemanusiaan itu tidak bertujuan mencari imbalan. Sebab, suami Nurvitasari tersebut mempunyai usaha di bidang wisata arung jeram dan paint ball di sejumlah lokasi. Dia menyatakan terlibat dalam misi sosial itu sebagai panggilan jiwa.
’’Mungkin terdengar klise. Tapi, saya ingin menjadi manusia yang berguna bagi sesama,’’ tegasnya.
Passion Eko untuk terlibat dalam kegiatan sosial sebenarnya tumbuh sejak kuliah. Saat menempuh pendidikan di Jurusan Geografi UNJ, dia sering mengikuti kegiatan ekstra seperti kepencintaalaman. ’’Istri saya mendukung penuh aktivitas saya itu,’’ tuturnya.
Tidak jarang, dalam beberapa kegiatan sosial dan kemanusiaan, dia mengajak serta anak dan istrinya. Dia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang memiliki kepedulian kepada sesama. ’’Anak-anak sering saya ajak ketika mendistribusikan bantuan untuk korban banjir di Jakarta dan sekitarnya. Yang dekat-dekat sini saja,’’ ujarnya.
Meski masih kecil-kecil, anak-anak Eko mulai bisa memahami passionayahnya. Mereka bahkan bangga menyebut ayahnya berprofesi sebagai pekerja sosial daripada pengusaha wisata.
’’Kalau ditanya teman dan guru di sekolah, mereka mengatakan ayahnya sebagai pekerja sosial,’’ papar ayah Ramadhan Rizki, 12 ; Hasnah Rizki Shabiyah, 10; dan Safinah Rizki Mahdania, 6, itu.
Ada kejadian tidak terlupakan yang membuat Eko bangga dengan anaknya. Ketika itu, si sulung Rizki diajak dalam aksi pendistribusian bantuan sepatu bagi anak-anak korban erupsi Gunung Merapi pada 2010. Rizki begitu bersemangat ikut membagikan bantuan tersebut. Tanpa disadari Eko, ternyata anaknya itu justru memakai sandal butut dari Jakarta.
Eko lantas menawari Rizki satu sepatu baru yang akan dibagikan kepada anak-anak korban erupsi Merapi itu. ’’Ternyata, dia tidak mau. Dia bilang, ayah nanti kan bisa membelikannya sendiri,’’ ungkapnya.
Saat menceritakan itu, mata Eko berkaca-kaca. Dia tampak begitu bangga dengan keluarganya. Support seperti itulah yang membuat Eko terus total terjun dalam berbagai aktivitas kemanusiaan.
Totalitas itulah yang kemudian membuat Eko diminta bergabung dalam Kwarnas Pramuka oleh Adhyaksa Dault. Sebelum bergabung di Kwarnas, Eko lama terlibat di sebuah LSM kemanusiaan yang cukup terkenal. Baru saat Adhyaksa terpilih sebagai ketua Kwarnas pada 2012, Eko bergabung.
’’Saya sebenarnya anggota pramuka sejak SMP. Namun, ketika SMA, sudah tidak aktif. Saat Pak Adhyaksa jadi ketua (Kwarnas), saya diminta bergabung di bagian Abdi Masgana (Pengabdian Masyarakat dan Penanggulangan Bencana),’’ ujarnya.
Eko mengenal dekat Adhyaksa sejak masih menjabat menteri pemuda dan olahraga (Menpora). Adhyaksa kerap berlatih paint ball di tempat Eko. Sebelumnya, Eko dan Adhyaksa hanya saling mengenal sebagai sesama alumnus SMA Negeri 3 Jakarta.
’’Saat ditawari, saya langsung bersedia. Sebab, saya juga tahu betul sosok Pak Adhyaksa,’’ katanya.
Pria kelahiran Jogjakarta itu masih ingin mendedikasikan tenaga dan pikirannya dalam misi-misi kemanusiaan bersama Kwarnas. Dia selalu merasa tertantang ketika terjun sebagai relawan. Meskipun, kadang menjadi relawan juga membawa dampak tidak mengenakkan bagi dirinya. Misalnya, sampai saat ini dia selalu gagal mengurus visa ke Amerika Serikat karena ada cap visa kantor imigrasi Somalia di paspornya. Menurut informasi yang didapat Eko, Somalia masuk dalam daftar negara berbahaya bagi Amerika Serikat.
’’Padahal, wajah saya tidak berjenggot. Nama saya juga standar nama Indonesia. Ternyata, gara-gara stempel Somalia itu,’’ kelakarnya. (*/c5/ari)

Hapus Hukuman Mati, DPD Minta DPR Revisi UU

Hapus Hukuman Mati, DPD Minta DPR Revisi UU

25/02/15, 18:17 WIB
Wakil Ketua DPD Farouk Muhamad. (Ricardo/JPNN)
JAKARTA - Eksekusi mati terhadap terpidana narkoba di Indonesia kerap menimbulkan perdebatan. Tidak hanya dari dalam negeri, protes juga datang dari negara sahabat. Australia, Brasil, dan Belanda mengecam pelaksanaan eksekusi tersebut karena ada warga negaranya yang terancam hukum tersebut.
Beberapa kalangan di tanah air juga menyayangkan adanya hukuman tersebut karena dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM). ”Memang, kalau dilihat setiap orang wajib menghormati HAM orang lain. Sebagaimana diatur oleh hukum negara, HAM harus dijunjung tinggi,” kata Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhamad dalam diskusi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (25/2).
Namun, dia menambahkan, tidak semua HAM itu dibebaskan. ”Sebab, ada HAM yang harus dipertanggungjawabkan,” tuturnya. Untuk kasus narkoba, harus diberikan hukuman sesuai dengan ketentuan pidana.
”Apalagi, sistem atau aturan hukum di negara Indonesia masih mengakui hukuman eksekusi mati bagi terpidana narkoba,” papar Farouk.
Kendati demikian, DPD mengharapkan, dalam 5-10 tahun mendatang, Indonesia tidak memakai hukuman tersebut. ”Kami berharap 5-10 tahun mendatang, hukuman eksekusi mati bagi terpidana narkoba akan dihapus kembali,” tutur Farouk.
Perubahan itu akan dilakukan secara bertahap. DPD akan meminta DPR untuk melakukan revisi undang-undang. ”DPD tidak memiliki kewenangan mengatur UU yang ada. Jadi, kami akan meminta anggota DPR untuk merevisinya,” tandasnya.
Menurut Farouk, hukuman mati bagi terpidana narkoba adalah langkah yang tepat untuk langkah awal atau jangka pendek. ”Sampai akhirnya, biar masyarakat sendiri yang menolak hukuman tersebut,” kata Farouk.
Di tempat yang sama, pakar hukum pidana Romli Atmasasmita menambahkan, kejahatan narkoba adalah kejahatan yang memiliki dampak luar biasa ketimbang korupsi. ”Satu gram heroin bisa membunuh 40 orang,” ungkapnya. ”Jadi, sebenarnya jangan dilihat dari pelanggaran HAM. Tetapi, dilihat dari berapa banyak korban yang akan habis ditelan narkoba. Dan ini sudah termasuk kejahatan kemanusiaan,” imbuh Romli.
Menurut guru besar Universitas Padjadjaran itu, polisi Indonesia tidak perlu takut dengan adanya tekanan dari berbagai pihak. Pemerintah pun jangan takut mengatakan tidak pada negara maju. (Rehdian Khartika/fal)

Bangun E-commerce, Lippo Investasi USD 500 Juta

Bangun E-commerce, Lippo Investasi USD 500 Juta

25/02/15, 19:47 WIB
Direktur Grup Lippo John Riady (tengah) saat launching MatahariMall.com di Hermitage Hotel, Jakarta, Rabu (25/2) (Sri Wahyu Ningsih/Jawa Pos)
JAKARTA – Geliat industri e-commerce di Indonesia semakin bergairah. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya e-commerce yang bermunculan. Grup Lippo turut ambil bagian dalam persaingan bisnis jual beli secara online dengan meluncurkan MatahariMall.com.

E-commerce yang memberikan layanan O2O (Online-to-Offline) ini ditargetkan dapat meraih omset USD 1 miliar. Dalam jangka waktu satu tahun enam bulan sampai dua tahun.
Direktur Grup Lippo John Riady mengungkapkan peluncuran e-commerce ini untuk memperkuat posisi sebagai grup ritel multi-format terbesar di Indonesia. Dana yang telah diinvestasikan USD 500 juta untuk jangka waktu 2-3 tahun kedepan. ”Target kami omzetnya mencapai USD 1 miliar sehingga dapat menjadi Alibaba versi Indonesia,” tutur John saat peluncuran di Hermitage Hotel Jakarta, Rabu (25/2).
John menambahkan MatahariMall.com juga ditargetkan bakal memberi sumbangsih divisi ritel konsumen Grup Lippo sehingga bisa membukukan pendapatan USD 25 miliar dalam lima tahun kedepan. Kontribusi ritel online mencapai 20 persen.
Saat ini, divisi ritel Grup Lippo memiliki pendapatan tahunan lebih dari Rp 60 triliun. Serta, secara konsisten bertumbuh lebih dari 20 persen per tahun. Penyumbang terpesat adalah ritel makanan, Hypermart. Dari pangsa pasar 24 persen pada 2007 meningkat menjadi 40 persen di 2014. "Angka ini sekaligus mencatat sebagai salah satu ritel dengan pertumbuhan tercepat di Asia," ujar John.
Menurut John  peluang online ritel di tanah air masih besar. Tahun ini, penetrasi internet ditargetkan melebihi 30 persen. ”Saat ini, ritel online baru 0,7 persen dari total penjualan ritel. Namun diperkirakan akan tumbuh sepuluh kali lipat dalam lima tahun ke depan,” imbuh John. (swn/dio)

Pengembangan Minapolitan ala Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi

Pengembangan Minapolitan ala Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi

Produksi Ikan 27 Ton Per Hari
25/02/15, 19:50 WIB
PANEN: Bupati Imron Rosyadi (dua dari kanan) memegang ikan tangkapan nelayan. (Rakyat Bengkulu/JPNN)
BUPATI Bengkulu Utara Imron Rosyadi boleh berbangga. Wilayahnya dinobatkan sebagai penghasil ikan terbaik ketiga tingkat nasional dan satu-satunya kabupaten yang masuk tiga besar program budi daya perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pada 2014, produksi ikan di Bengkulu Utara mencapai 9.867,25 ton. Jadi, kalau dirata-rata, 27 ton per hari. Itu baru produksi ikan air tawar hasil budi daya. Dominasinya ikan nila (4.432,53 ton) dan ikan mas (2.214,42 ton).
Sejak ada kawasan minapolitan, produksi ikan di Bengkulu Utara terus merangkak naik. Pada 2010, produksi ikan hanya 6.510,1 ton. Tahun berikutnya berturut-turut naik menjadi 7.400 ton (2011), 8.097 ton (2012), lalu 9.867 ton (2013). ”Perikanan memang menjadi salah satu komoditas unggulan di Bengkulu Utara,” kata Imron kepada Rakyat Bengkulu (Jawa Pos Group).
Menurut Imron, hasil ikan di daerahnya tidak hanya dikonsumsi masyarakat Provinsi Bengkulu. Hasil petani ikan budi daya sudah dikirimkan ke Lubuklinggau dan beberapa kota di Sumatera Barat.
”Jumlah panen ikan kami sangat besar dengan harga yang bersaing dengan wilayah lain. Makanya, hasil perikanan budi daya kami bisa masuk ke provinsi-provinsi lain. Setiap malam ikan-ikan itu dikirimkan,” terang Imron.
Awalnya, Imron melihat bahwa perairan di wilayah Kecamatan Padang Jaya sangat potensial menjadi wilayah perikanan kolam. Setelah mencanangkan beberapa program perikanan budi daya, keseriusan Imron tercium oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akhirnya ikut menyokong program tersebut.
Program perikanan budi daya tak hanya digalakkan di wilayah minapolitan Padang Jaya, melainkan menyebar di seluruh kecamatan. Semboyan ”sehat makan ikan” juga dikembangkan dengan pelepasan puluhan ribu bibit ikan di setiap danau yang ada di kecamatan. Diharapkan bibit-bibit itu bisa berkembang bagi masyarakat.
”Kami inventaris di seluruh wilayah yang terdapat danau. Di sana, dilepaskan puluhan ribu ikan bagi masyarakat. Nanti mereka bisa menikmati ikan hanya dengan memancing. Ini karena kami sadar bahwa kandungan gizi yang ada dalam ikan sangat baik bagi manusia,” ujarnya.
Bahkan, kini Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melirik potensi lain, yakni pengembangbiakan ikan sidat atau yang dikenal sebagai belut di masyarakat. Ikan itu biasa diekspor ke Jepang dan Tiongkok. Bahkan, kementerian berjanji mencarikan investor yang mau menanamkan modal untuk pengembangbiakan ikan tersebut.
Bengkulu Utara sangat menyokong pendapatan daerah Provinsi Bengkulu, terutama dari sektor pertambangan dan investasi luar negeri. Maklum, Bengkulu Utara merupakan kabupaten terbesar yang berhasil mendatangkan investor untuk sektor perkebunan maupun pertambangan.
Hal itu tentu berdampak langsung bagi kabupaten tetangga maupun daerah lain di Provinsi Bengkulu. Dari sepuluh tahun masa kepemimpinan Imron, dana bagi hasil (DBH) pertambangan Provinsi Bengkulu dan daerah tetangga Bengkulu Utara meningkat.
Dituturkan Imron, sektor pertambangan sudah berperan banyak dalam pertumbuhan ekonomi Bengkulu Utara maupun Provinsi Bengkulu. Bukan hanya masukan pajak dan royalti, serapan tenaga kerja serta tumbuhnya ekonomi kecil juga menjadi salah satu keuntungan bagi masyarakat dan pemerintah.
”Alhamdulillah Bengkulu Utara dipercaya oleh sekian banyak investor. Kami punya investor dari dalam dan luar negeri. Kami selaku pemerintah tetap memberikan kemudahan investasi, tentunya tetap dengan dasar aturan yang berlaku,” terang Imron.
Bukan hanya pertambangan, sektor perkebunan, terutama karet dan kelapa sawit, juga menjadi primadona di wilayah itu. Bahkan, kabupaten tersebut menjadi penghasil kelapa sawit dan karet terbesar di Provinsi Bengkulu. Hal itu juga menjadi salah satu aspek yang membesarkan ekonomi masyarakat Bengkulu Utara.
Obsesi Kota Terpadu Mandiri Lagita
SEJAK 2010, Bengkulu Utara memiliki Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lagita yang diresmikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar. Nama Lagita merupakan singkatan dari nama tiga kecamatan, yakni Lais, Giri Mulya, dan Ketahun.
KTM berdiri di atas lahan seluas 99.251 hektare. Sekitar 50 hektare disiapkan sebagai pusat KTM yang direncanakan berdiri rumah sakit, sekolah, permukiman, dan pusat perbelanjaan. Pembangunan KTM itu mendapat kucuran dana segar Rp 96 miliar dari Kemenakertrans.
Dibukanya KTM di Bengkulu Utara merupakan buah dari upaya keras Imron melobi pemerintah puat. Menurut Imron, wilayahnya tidak akan bisa maju kalau mengandalkan APBD. Karena itu, Imron ngotot membangun KTM dan bersaing dengan 300 kabupaten yang mengajukan hal sama. Akhirnya, dipilih 44 kabupaten. Salah satunya Bengkulu Utara.
Namun, sejak diresmikan, pembangunan pusat KTM belum dimulai. ”Memang kita sedikit kecewa. Setelah lima tahun diresmikan, pusat KTM belum dibangun. Namun, sedikit-sedikit kami mulai membangun,” ujar Imron.
Pada 2013, Imron mendapat kepastian dari Kementerian Kesehatan akan didirikannya rumah sakit pratama di pusat KTM, Desa Giri Kencana, Ketahun. Pemilihan Ketahun sebagai pusat KTM serta Lais dan Giri Mulya sebagai daerah penyangga bukan tanpa alasan. Ketahun saat ini menjadi kecamatan dengan perputaran ekonomi tertinggi di Bengkulu Utara, mengalahkan Arga Makmur, ibu kota Bengkulu Utara.
KTM menjadi salah satu strategi Imron untuk memberikan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Kini sarana pendidikan, rumah sakit, hingga pusat perbelanjaan sedang dibangun di Ketahun. ”Masyarakat wilayah Ketahun dan Lais selama ini jauh menjangkau rumah sakit dan pusat perbelanjaan di Arga Makmur,” terang Imron. (qia/c11/c6/tom)

Terdakwa Narkoba Terancam Hukuman Mati


Terdakwa Narkoba Terancam Hukuman Mati

26/02/15, 05:00 WIB
TEGAS: Tiga terdakwa narkotika jaringan internasional menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, Rabu (25/2) sore. (Aminoer Rasyid/Sumut Pos/JPNN
MEDAN – Tiga terdakwa narkotika jaringan internasional terancam hukuman mati. Mereka adalah Ramlan Siregar, 48; Rahmat Suwito, 31; dan Hamri Prayoga 33. Dari tiga terdakwa tersebut, ditemukan 25 kilogram sabu-sabu dan 30.000 butir pil ekstasi.
Dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, Rabu sore (25/2), jaksa penuntut umum (JPU) Yunitri Sagala di hadapan majelis hakim yang diketuai M. Aksir membaca surat dakwaan. Tiga terdakwa itu dijerat pasal 112 ayat (2) subs pasal 114 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka dinyatakan telah menjadi perantara peredaran narkotika golongan I bukan tanaman dengan berat lebih dari 5 gram.
’’Dengan barang bukti 25 kilogram sabu-sabu dan melihat jumlah barang bukti narkobanya yang cukup besar, mereka terancam hukuman mati,’’ kata Yunitri.
Berdasar dakwaan, Ramlan, Rahmat, dan Hamri tertangkap setelah polisi meringkus Hendra Gunawan, 32, di pelataran parkir supermarket Maju Bersama, Jalan Tritura, Medan Amplas, 11 September lalu. Dari tangan PNS yang tinggal di Jalan M. Nur, Damu Banda, Tanjung Balai, tersebut, polisi dari Satresnarkoba Polresta Medan menyita 0,5 gram sabu-sabu sebagai barang bukti. ’’Dia hanya pemakai dan sidangnya sudah lebih dulu digelar,’’ jelas Yunitri.
Hendra mengaku, sabu-sabu itu diperoleh dari Ramlan. Polisi lalu melakukan pengembangan hingga berhasil menangkap laki-laki tersebut di kawasan Jalan Lintas Simpang Kawat, Tanjung Balai, 12 September 2014. Petugas tidak menemukan barang bukti dari Ramlan. Namun, dia menyatakan mendapatkan sabu-sabu dan ekstasi dari Pelabuhan Tanjung Balai. Narkoba itu dikirim seseorang bernama Amir, warga Malaysia.
Ramlan menuturkan sudah menyerahkan narkoba tersebut kepada Rahmad Suwito. Dia pun diciduk saat menunggu bus di kawasan simpang Sekata Air Batu, Asahan. Bersama Suwito, petugas menyita 1 goni yang berisi 25 bungkus plastik berisi 25 kilogram sabu-sabu serta 6 bungkus plastik berisi 30 ribu butir pil ekstasi seberat 10 kg.
Suwito mengaku disuruh mengantar narkoba itu kepada Hamri. Hamri pun ditangkap di rumahnya di Jalan Sei Batang Hari, Medan Baru. Laki-laki tersebut berperan sebagai koordinator lapangan. Selain itu, dia bertugas sebagai penghubung langsung dengan Amir di Malaysia. Setelah mendengarkan dakwaan JPU, majelis hakim M. Aksir menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.(gus/adz/JPNN/c15/diq)